Jumat, 18 September 2015
Kamis, 10 September 2015
KM LABOBAR PERJALANAN SORONG - JAYAPUARA VIA NABIRE
Action di Kapal Labobar, 8 Sepetember saat kapal singah di pelabuhan Nabire selama 5 jam (5-10 Pagi) baru bertolak menuju ke Jayapura, Eti, Jewis, Jemmy dan Senior Abraham (Waning)
Dong 4 punya gaya saja andalan ee...

KAKI YANG MAHAL
Gaya Mantap Jemmy, Jewis dan Ety
Duta wisata PELNI
Yang penting actionnya....
Kota yang pernah di lalui dengan sepeda Siriwini-Karang Tumaritis via Kota Baru depan Kantor Bupati Nabire, ha ha ee
Dong 4 punya gaya saja andalan ee...

KAKI YANG MAHAL
Gaya Mantap Jemmy, Jewis dan Ety
Duta wisata PELNI
Yang penting actionnya....
Kota yang pernah di lalui dengan sepeda Siriwini-Karang Tumaritis via Kota Baru depan Kantor Bupati Nabire, ha ha ee
Jumat, 21 Agustus 2015
NOKEN KITA
Siapa yang tidak kenal NOKEN ??
Noken adalah kantong khas orang Papua yang oleh Unesco telah
dipatenkan dan diakui sebagai milik dan warisan Indonesia demikian kira-kira.
Dahulu orang membuat noken dengan menggunakan bahan alami
dari kulit kayu tertentu yang
dikeringkan dan dirajut serta dinyulam menjadi tas atau noken dan pewarnaannya
juga menggunakan bahan alami seperti dari buah dan geta kayu.
Noken bagi masyarakat Papua sangat penting keberadaannya
karena fungsi noken sendiri sangat komlex diantaranya dapat berfungsi sebagai
penampung hasil kebun untuk dibawah pulang dari kebun, menampung hasil buruan
atau tangkapan, menggendong anak kecil
serta menyimpan benda-benda yang mempunyai nilai sejarah atau budaya.
Seiring kemajuan zaman, kini nokenpun sebagai kantong asli
orang Papua tak ketinggalan, perpaduan benang dan corak warna terang membuat
noken hadir semakin modif, tapi tidak meninggalkan bentuk alaminya.
Pemerintah Provinsi Papua telah mengintruksikan kepada PNS
di seluruh Papua untuk wajib menggunakan Noken dan batik khas Papua pada hari
kamis setiap minggu, melaui instruksi Gubernur Papua Nomor 3 tahun 2014 tentang
Gerakan Melestarikan Budaya Papua dan Pangan Lokal.
Hal ini dimaksudkan
agar semua kita yang berada di Papua baik orang asli maupun pendatang dapat
menghargai keberadaan Noken sebagai budaya asli Papua, sehingga rasa memiliki
Papua dapat tertanam di dalam hati semua warga Papua.
Dampak dari intruksi Gubernur Papua tersebut, kini mama-mama
Papua telah menyulam noken dengan corak dan motif khas Papua serta diperjual
belikan, hal ini tentu merupakan dampak positif karena secara tidak langsung
terbuka lapangan kerja serta mengatasi masalah kemiskinan.
Permasalahannya adalah bahwa pemerintah daerah khususnya
kabupaten Nabire tidak tanggap dengan fenomena noken ini. Maksud saya adalah
bahwa paling tidak pemerintah daerah Nabire menyiapkan tempat yang layak serta
mudah diakses oleh penggemar dan juga pembeli noken tersebut.
Di sini di Nabire, tepatnya di depan Taman Kota (Taman Gizi)
dapat kita jumpai mama-mama kita orang asli Papua yang setiap hari menjual
noken tanpa tutup kepala atau tempat menjual yang manusiawi.
Ini adalah tanah mereka, dan mereka menjual hasil karya
mereka yang juga adalah hasil dari budaya kita, kenapa sulit bagi Pemerintah
Daerah ini untuk meresponya dengan menyiapkan tempat yang layak dan manusiawi.
Beberapa bulan yang lalu, saya melihat hanya beberapa noken
saja yang dipajang buat dijual sementara yang lainnya masi dinyulam dengan
hanya 2 orang mama yang berjualan, hari ini telah ada beberapa mama-mama yang
berjualan dengan sederet noken yang tergantung sebagai pajangan. Sepintas
noken-noken tersebut sangat indah dipandang karena perpaduan warnah yang cerah
dan corak yang khas Papua, tetapi secara manusiawi sangat tidak masuk akal jika
membiarkan mama-mama tersebut berjemur panas untuk menjajahkan hasil nyulam
mereka, syukur hanya panas saja, bagaimana klau musim penghujan yang jelas
aktifitas penjualan tidak ada sama sekali.
Sebaiknya Pemerintah Nabire telah berpikir bagaimana caranya
agar mama-mama tersebut dapat dibuatkan tempat yang layak dan masuk akal serta
mudah diakses oleh calon pembeli.
Kalau saya pribadi lebih setuju agar noken-noken tersebut di
jual atau dipajang di blok-blok airport Nabire, disana banyak blok yang kosong
dan hanya disewahkan pada pedagang warung, alangka baiknya diberikan kepada
mama-mama asli Papua ini untuk memajangkan hasil kerajinan mereka, agar tamu
daerah yang datang ke Nabire bias melihatnya dan menjadikan noken kita sebagai cendera
mata bahkan digunakan oleh mereka sebagai penunjang aktivitas mereka, itupun
kalau kita berpihak pada masyarakat kecil orang asli Papua.
Kamis, 20 Agustus 2015
KARNAVAL DI NABIRE
Karnaval merupakan pertunjukan berjalan dan umumnya
dilakukan di jalan raya dengan melibatkan kalayak banyak, baik yang berjalan kaki
maupun menggunakan kendaraan.
Di Nabire, umumnya karnaval dilaksanakan sehari setelah HUT
RI atau tepatnya tanggal 18 agustus, dengan diikuti oleh pelajar SD, SMP, SMA,
SMK, Universitas, Tentara, Polisi, Instansi Pemerintah baik Otonom maupun
vertical serta sanggar, kompleks, suku/etnik, bengkel dan toko.
Pada karnaval sendiri banyak hal yang dipertunjukan dari
masing-masing kontestan mewakili instansi atau lembaga baik formal dan
nonformal tersebut. Dan hampir terasa komplit jika kita menyaksikan karnaval
secara langsung, dimana anak-anak dengan berbagai pakaian profesi yang
menggambarkan minat dan cita-cita mereka yang telah diimpikan sejak dini
berjalan dengan langka yang gagah dan pasti. Demikian juga adik-adik SMP bahkan
SMA dan SMK dengan penuh penghayatan dalam hayalan menggunakan pakaian profesi dan mungkin merasa
bahwa hal itu adalah nyata walau hanya berlangsung dalam satu hari saja, ha ha
ha asal tidak dicap gadungan eee..Justkidding…
Instansi pemerintah-pun tidak ketinggalan baik otonom maupun
vertical masing-masing bersaing mempertunjukan tugas pokok masing-masing
(TUPOKSI) dalam melayani masyarakat, serta target yang telah dicapai menyangkut bidang tugasnya
dan target diwaktu yang akan datang.
Menjadi penonton karnaval sebenarnya sangat asik juga, kita
jadi banyak tahu tentang instansi atau bagian-bagian penting penting yang ada
di daerah kita, serta melihat kekompakan
peserta yang seakan berpadu menjadi satu.
Ini adalah pesta rakyat yang sebenarnya, semua warga berbaur
dan sejenak melupakan rutinitas kesibukan yang mungkin banyak menguras tenaga
dan konsentrasi.
Setelah merayakan HUT RI dan mengsyukuri Rahmat Tuhan bagi
bangsa Indonesia dalam alam kebebasan yang dinamakan kemerdekaan, kini saatnya
kita mengisi kemerdekaan tersebut dengan pengabdian diberbagai sektor profesi yang
kita jalani dengan semboyan KERJA DAN
KERJA., itulah makna KARNAVAL sebenarnya menurut saya, bagaimana dengan anda ?
Rabu, 19 Agustus 2015
YOSPAN
Menjelang 17 Agustus setiap tahunnya di Nabire banyak
kegiatan yang laksanakan oleh Panitia HUT RI diantaranya lomba gerak jalan,
yospan jalan, lari 10 KM, dayun dan paduan suara serta solo lagu-lagu
perjuangan.
Dari beberapa lomba diatas yang banyak menarik minat dan
antusias warga Nabire hingga berbondong-bondong datang menyaksikan perlombaan
tersebut adalah Yosim Pancar atau yang di singkat Yospan.
Hal ini dapat dimaklumi karena Yospan sendiri adalah
merupakan budaya asli Papua dan pertunjukannya di Nabire hampir jarang
dilaksanakan, dan hanya dilaksanakan dalam bentuk yospan
jalan setahun sekali menjelang HUT kemerdekaan Negara kita.
Yospan saat ini telah berkembang sangat jauh, dari kostum
hingga fariasi para penari banyak mengalami modifikasi.
Kostum dengan corak warnah cerah membuat penari yospan
kelihatan kren dengan warna-warni aksesorisnya.
Tapi tidak berarti pakaian tradisional ditiadakan, ada
beberapa sanggar di Nabire yang tetap mempertahankan corak atau busana radisional
bagi para penarinya, mungkin saja mereka bermaksud untuk menjega serta
melestarikan budaya Papua yang sebenarnya.
Yospan sendiri merupakan tarian pergaulan atau persahabatan antara muda-mudi
sebagai ungkapan rasa suka dan sayang yang di kemas melalui lagu dan tarian.
Sekalipun yospan merupakan tarian bagi muda-mudi namun tidak
menutup kemungkinan bagi mereka yang telah berkeluarga untuk tidak bergabung,
namanya juga hobi dan seni sehingga siapa saja dapat terlibat didalamnya.
Harapan kami semoga tarian yosim pancar ini dapat
dilestarikan keberadaannya di Papua, jangan hanya dilaksanakan setahun sekali
seperti menjelang HUT RI tapi Pemda Provinsi serta Kabupaten dan Kota di Papua
dan Papua Barat menprogramkan agar pelaksanaan perlombaan bagi warga di Papua
paling tidak tiga kali dalam setahun, agar tarian khas kami orang Papua tidak
hilang atau dilupakan begitu saja, bahkan dilestarikan buat anak cucu kita di
waktu mendatang.
Rabu, 22 Juli 2015
MENJADI PEMIMPIN NABIRE 2016-2021
Nabire-Menjadi Bupati Nabire memiliki kebanggaan tersendiri bagi setiap orang khususnya mereka yang berminat menjadi pemimpin melalui jalur pemilihan tersebut, karena Nabire merupakan pintu masuk bagi beberapa Kabupaten di Pegunungan Tengah Papua. Tidak ketinggalan beberapa kandidat baik yang berasal dan bekerja atau pernah bekerja di Nabire maupun yang tidak pernah bekerja atau atau tinggal di Nabire namun berkeinginan menjadi orang nomor 1 dan 2 di daerah ini baik melalui jalur partai politik maupun jalur perorangan (Independen) berusaha mengadu keberuntungan melalui Pilkada Nabire.
Sebagai pintu masuk bagi beberapa Kabupaten di pegunungan tengah Papua membuat posisi Nabire sangat staretegis baik dari aspek politis, pembangunan dan juga ekonomi.
Pemerintah Provinsi Papua misalnya telah merencanakan pembuatan Rumah Sakit rujukan di Nabire bagi masyarakat di wilayah pegungan tengah dengan maksud agar ketika terjadi kasus pada pasien yang membutuhkan tindakan medis lanjutan di wilayah Kabupaten yang berada di pegungan tengah, maka Nabire merupakan tujuannya agar pasien-pasien tersebut tidak harus di rujuk dan menumpuk di Jayapura, kecuali untuk beberapa kasus medis yang belum tersedia sarana maupun dokter spesialisnya.
Arus barang masuk melalui pelabuhan Nabire-pun sangat padat mengingat barang-barang tersebut bukan hanya untuk mencukupi permintaan dan kebutuhan masayarakat Nabire, tetapi juga untuk mengsuplai kebutuhan bagi kabupaten lainnya di pegunungan tengah Papua.
Dari dua contoh gambaran diatas dapat memberikan gambaran kepada kita bahwa betapa strategisnya keberadaan Kabupaten Nabire karena letak dan posisinya sehingga menjadi incaran dan juga rebutan bagi calon-calon kepala Daerah yang ingin menjadi Bupati dan Wakil Bupati Nabire peride 2016-2021
Pertanyaannya apakah mereka yang merebut posisi 01 dan 02 Nabire adalah orang yang benar-benar mengerti tentang permasalahan dan problem sesungguhnya di Nabire ?
Apakah Nabire benar-benar penting dalam posisi dan keberadaannya dan seberapa luas pemahaman para kandidat tersebut ?
Nabire memiliki masyarakat yang multi etnik, seperti daerah Papua lainnya, segalah suku bangsa dari Aceh hingga Papua dapat di jumpai di Nabire serta warganya memeluk 5 agama besar yang di akui oleh negara kita, inilah Indonesia mini yang sesungguhnya.
Dukungan semua etnik dan komunitas lintas agama sangat di perlukan dan dibutuhkan buat mengantar seorang figur menjadi Bupati dan Wakil Bupati Nabire.
Itu artinya bahwa seseorang tidak bisa hanya mengharapkan dukungan komunitas atau kelompok suku bangsa bahkan agama tertentu. Jika ingin berhasil menjadi pemimpin di Nabire maka yang paling utama dilakukan adalah merangkul semua golongan, itulah yang mejadi modal awal keberhasilan seseorang memimpin Nabire.
Semoga pemimpin Nabire nantinya yang di hasilkan melalui proses PILKADA Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia adalah orang yang tepat !
@I Love NabireSenin, 20 Juli 2015
NABIRE TITIK 0 KM
Nabire-Tugu Tinggal Landas depan Kantor Bupati Nabire
merupakan sentral atau titik 0 KM di Kabupaten Nabire. Kantor Bupati Nabire
sendiri adalah kantor atau bangunan tua dan telah di renovasi hingga tampak
seperti pada gambar diatas pada tahun 2006 oleh Bupati Nabire saat itu
Drs.AP.Youw.
Dulunya kantor ini adalah kantor Bupati Kabupaten Paniai,
saat itu Paniai tua belum dimekarkan dan wilayahnya Kabupaten Paniai sangat
luas sekali mencakup wilayah Nabire saat ini, Paniai, Puncak Jaya, Dogiyai,
Deyai dan Intan Jaya.
Tugu Tinggal Landas berada di jalan Merdeka Kelurahan
Karang Mulia Distrik Nabire, orang Nabire biasa juga menyebutnya tugu rudal
karena memang modelnya persis seperti rudal saat mau di tembakan ketika perang
atau juga tugu roket karena juga mirip roket saat akan tinggal landas menuju
stasion luar angkasa, ha ha ee emangnya misi mencari keberadaan dan posisi si Alien !?
Mungkin saja saat pembuatannya, Pemerintah Daerah Nabire
berangan-angan bahwa suatu ketika pembangunan di Nabire akan tumbuh pesat
dengan kemajuan di segalah bidang, baik di bidang SDM, SDA dan juga
infrastruktur serta Iman dan Taqwa kepada Tuhan Yang Esa.
Namanya juga angan-angan !?
Suka tidak suka apapun yang telah di canangkan oleh para
pendahulu dan pioner Kabupaten Nabire baik di bidang Pemerintahan dan
Pembangunan di Nabire patut kita acungkan jempol.
Banyak warisan yang hingga kini dapat kita nikmati, contoh
nyata adalah infrastruktur jalan dua jalur di Nabire yang telah ada dan
dibangun sejak dekata 90an, Nabire merupakan Kabupaten pertama di Irian Jaya
saat itu yang memiliki infrastruktur jalan dengan dua jalur sekaligus merupakan
pelopor dan motivator bagi Kabupaten lainnya di Papua untuk membangun
infratruktur jalan yang sama yakni berjalur dua guna mengurangi angka
kecelakaan dan juga kemacetan.
Kembali ke tugu tinggal landas, guna mengukur jarak ke
suatu titik atau tempat di Nabire yang memiliki nilai sejarah serta kenangan
tersendiri maka kita akan mengacuh pada tugu ini, ha ha ha..
Contoh dari tugu tinggal landas kita ingin ke pasar Karang
maka kita membutuhkan kurang lebih 7 menit dengan jarak sekitar 3 Km dengan
menggunakan sepeda motor, koq jadinya pasar karang lagi yang jadi rujukan ?
Begini berbicara Nabire tidak dapat kita lupakan tempat yang
namanya Pasar Karang, pasar ini berada di wilayah Kelurahan Karang Tumaritis
(KARTUMATI) dan merupaka salah satu pasar tertua di Nabire yang hingga saat ini
masi tetap exis.
Pada saat lalu khususnya decade 80an-90an Pasar Karang ini merupakan tempat dijualnya segalah kebutuhan dasar dan hasil kebun,
konon saat itu di Nabire banyak tumbuh pohon pisang dan juga singkong, sehingga
harga satu tandan buah pisang sangat murah sekali karena berlimpahnya.
Masi teringat ketika berada di Pasar Karang kita bisa makan
pisang goreng dari pisang yang masak atau matang di pohon dengan porsi yang besar
sekali, wooo luar biasa satu buah di hargai Rp.50,-, kalau ingat saat itu
terasa indah sekali.
Karena berlimpahnya buah pisang di Nabire saat itu sehingga
sebagian di kirim ke Biak menggunakan kapal
perintis yang saat itu melayani pesisir utara tanah Papua, maklum karena kapal
putih milik pelni baru masuk dan singga pelabuhan Nabire sekitar tahun 1993.
Menurut kata orang bahwa di Biak sangat susah sekali jika mau makan pisang,
sehingga kalau membeli pisang goreng maka yang banyak adalah tepungnya
sementara pisangnya sangat sedikit, dan hal ini sangat berbanding terbalik
dengan orang di Nabire jika membeli pisang goreng maka yang banyak atau besar
adalah pisangnya sedangkan tepungnya sangat sedikit atau tipis sekali, fenomena
yang terbalik dan lucu sekali.
@I Love Nabire
Langganan:
Postingan (Atom)








